Sejarah Kota Palembang. Palembang bukan sekadar ibu kota Provinsi Sumatera Selatan yang dikenal dengan kelezatan pempeknya. Di balik hiruk-pikuk modernitas dan kemegahan Jembatan Ampera, kota ini menyimpan identitas yang sangat agung: Palembang adalah kota tertua di Indonesia.
Menelusuri sejarah Palembang sama artinya dengan menyelami kejayaan bahari Nusantara. Bagaimana sebuah wilayah di tepian Sungai Musi bisa bertahan selama ribuan tahun dan tetap eksis hingga hari ini? Mengapa para sejarawan begitu yakin menetapkannya sebagai yang tertua?
Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang Palembang, dari era Kedatuan Sriwijaya hingga perkembangannya di tahun 2026.
Prasasti Kedukan Bukit: Akta Kelahiran yang Abadi
Klaim Palembang sebagai kota tertua di Indonesia bukanlah tanpa bukti atau sekadar dongeng pengantar tidur. Dasar hukum sejarah ini tertuang dalam sebuah artefak kuno bernama Prasasti Kedukan Bukit.
Ditemukan di tepi Sungai Tatang, prasasti bertinggalan tahun 682 Masehi ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Di dalamnya tertulis bahwa pada tanggal 16 Juni 682 M, seorang penguasa bernama Dapunta Hyang melakukan Siddhayatra (perjalanan suci) dengan menaiki perahu. Ia membawa 20.000 tentara dan berhasil membangun sebuah pemukiman yang kemudian menjadi pusat Kedatuan Sriwijaya.
Berdasarkan penanggalan tersebut, Pemerintah Kota Palembang menetapkan 16 Juni sebagai hari jadi kota. Jika kita menghitung dari tahun 682 M hingga tahun 2026 ini, maka Palembang telah berusia 1.344 tahun. Usia ini jauh melampaui Jakarta (499 tahun) atau Surabaya (733 tahun), menjadikannya saksi bisu tertua dari peradaban kota di Nusantara.

Kejayaan Sriwijaya: Venesia dari Timur
Mengapa Palembang dipilih oleh Dapunta Hyang? Jawabannya adalah Sungai Musi. Pada masa kejayaannya, Palembang dikenal oleh para pedagang Arab dan Tiongkok sebagai kota yang terapung. Banyak penduduknya yang tinggal di atas rakit (rumah rakit) di sepanjang aliran sungai. Karena struktur kotanya yang dipenuhi kanal dan ketergantungan pada air, orang-orang Eropa di kemudian hari menjulukinya sebagai “Venice of the East” atau Venesia dari Timur.
Sebagai pusat Kedatuan Sriwijaya, Palembang menjadi magnet bagi dunia internasional:
- Pusat Pendidikan Agama: Pendeta dari Tiongkok, I-Tsing, mencatat bahwa pada abad ke-7, Palembang adalah pusat pembelajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Para biksu yang ingin belajar ke India disarankan menetap di Palembang selama satu atau dua tahun untuk memperdalam ilmu.
- Hub Perdagangan Dunia: Letaknya yang strategis di dekat Selat Malaka menjadikan Palembang pelabuhan transit utama bagi kapal-kapal yang membawa rempah-rempah, emas, dan gading.
- Kekuatan Bahari: Sriwijaya bukan kerajaan agraris, melainkan kekaisaran maritim. Mereka memiliki armada kapal yang sangat kuat untuk mengamankan jalur perdagangan dari serangan bajak laut.
Runtuhnya Sriwijaya dan Masa Kegelapan
Setiap kejayaan pasti menemui masa senjanya. Pada abad ke-11, Sriwijaya mulai melemah akibat serangan dari Kerajaan Chola (India Selatan) dan bangkitnya kekuatan-kekuatan baru di Jawa seperti Kerajaan Singasari dan Majapahit.
Setelah runtuhnya Sriwijaya, Palembang sempat memasuki masa yang disebut para sejarawan sebagai “masa kegelapan” atau era tanpa pemerintahan yang stabil. Wilayah ini sempat menjadi sarang bajak laut asal Tiongkok, seperti Chen Zuyi, sebelum akhirnya Laksamana Cheng Ho datang dan membantu menertibkan wilayah tersebut atas perintah Dinasti Ming.
Kesultanan Palembang Darussalam: Perpaduan Jawa dan Melayu
Setelah sekian lama berada di bawah pengaruh Majapahit, Palembang bangkit kembali pada abad ke-16 dengan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam. Pendirinya, Ki Gede ing Suro, adalah bangsawan dari Demak (Jawa) yang melarikan diri ke Sumatera akibat konflik politik.
Inilah momen di mana identitas Palembang menjadi sangat kaya. Terjadi perpaduan antara budaya Jawa (yang dibawa dari Demak) dengan budaya Melayu pesisir yang sudah ada sejak zaman Sriwijaya. Hal ini terlihat jelas dalam:
- Bahasa: Adanya tingkatan bahasa Palembang (Basa Bakit) yang mirip dengan Jawa.
- Arsitektur: Rumah Limas yang megah mencerminkan perpaduan filosofi tersebut.
- Kuliner: Pempek dan hidangan lainnya lahir dari proses asimilasi budaya lokal dan Tionghoa yang semakin kuat pada masa kesultanan.
Salah satu tokoh paling ikonik dari masa ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Beliau adalah pahlawan nasional yang memimpin perlawanan heroik melawan Inggris dan Belanda di awal abad ke-19 sebelum akhirnya diasingkan ke Ternate.
Kolonialisme dan Modernisasi
Belanda menguasai Palembang secara penuh setelah membubarkan kesultanan pada tahun 1823. Di tangan Belanda, Palembang mulai ditata menjadi kota modern bergaya Eropa namun tetap mempertahankan fungsi pelabuhannya. Penemuan sumber minyak di daerah pedalaman Sumatera Selatan (seperti Plaju dan Sungai Gerong) pada awal abad ke-20 mengubah wajah Palembang menjadi kota industri energi hingga saat ini.
Palembang di Era Modern (Update 2026)
Melompat ke tahun 2026, Palembang telah bertransformasi menjadi metropolitan yang canggih tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Beberapa update terkini mengenai wajah kota ini meliputi:
- Pusat Sport Tourism: Pasca kesuksesan Asian Games 2018, Kompleks Jakabaring Sport City terus berkembang menjadi kawasan olahraga terpadu tercanggih di Indonesia.
- Transportasi LRT: LRT Sumsel yang merupakan LRT pertama di Indonesia kini telah terintegrasi penuh dengan moda transportasi sungai dan darat lainnya, memudahkan wisatawan menjangkau situs sejarah.
- Revitalisasi Kawasan Sungai Musi: Proyek pembangunan pinggiran sungai (riverfront) di tahun 2026 membuat kawasan 16 Ilir dan Benteng Kuto Besak (BKB) menjadi lebih rapi, bersih, dan ramah pejalan kaki.
- Pelestarian Situs Sriwijaya: Penggalian arkeologi di kawasan Karanganyar (Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya) terus mengungkap temuan baru yang memperkuat bukti kebesaran Palembang di masa lalu.
Mengapa Anda Harus Mengunjungi Palembang Sekarang?
Bagi para pecinta sejarah, Palembang adalah perpustakaan terbuka. Mengunjungi kota ini bukan hanya soal makan pempek, tapi juga tentang:
- Ziarah Sejarah di BKB: Berdiri di Benteng Kuto Besak saat senja sambil memandang Ampera adalah cara terbaik merasakan energi kota ini.
- Misteri Bukit Siguntang: Tempat ini diyakini sebagai makam raja-raja dan tokoh suci masa lalu. Suasananya yang rimbun dan sakral sangat cocok bagi Anda yang mencari ketenangan.
- Kampung Al-Munawar: Menelusuri jejak keturunan Arab di tepian Musi yang masih menjaga arsitektur rumah tua berusia ratusan tahun.
- Museum Balaputradewa: Tempat di mana Anda bisa melihat langsung Rumah Limas asli yang tercetak di uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah lama.
Kesimpulan
Palembang bukan sekadar kota tertua karena angka, melainkan karena ketangguhan. Ia berhasil bertahan melewati transisi dari kerajaan Buddha, kesultanan Islam, kolonialisme Barat, hingga menjadi kota industri modern. Prasasti Kedukan Bukit adalah bukti otentik bahwa sejak 1.300 tahun lalu, Palembang sudah menjadi tempat di mana manusia berkumpul, berdagang, belajar, dan menciptakan sejarah.
Menjadi kota tertua di Indonesia memberikan tanggung jawab besar bagi generasi sekarang untuk terus menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi tahun 2026 yang begitu kencang.
